Life is a choice

Hmm.. Sudah 6 bulan sejak mengambil keputusan untuk keluar dari pekerjaan kantoran pada umumnya dan memilih kerja sebagai Dosen Honorer + Konsultan. Well, sebenarnya ini pekerjaan yang sangat menyenangkan. Bisa bergaul dengan banyak orang yang tidak terbatas pada 1 institusi saja. Kenal dengan orang baru dari berbagai perusahaan dan belajar budaya dari masing-masing institusi.

Terus.. Bisa kerja dari mana saja. Bisa di rumah, kerja di mall (food court plangi terutama), di jalan, di sekolah Tobi, dll.
Nah, masalahnya kalo udh kepentok masalah ekonomi. Kerja di kantoran emang lebih pasti secara financial tapi sangat terikat dan membatasi gerak kita. Ini dia yang bikin si Emak Tobi bingung. Apalagi belakangan ini udah ada 4 posisi yang ditawarkan dengan level managerial.

Saking bingung.. Mencoba baca buku Rick Warren lagi: The purpose driven life. Tuhan mau apa dalam hidupku ini ya? Kalau inget hasil berdoa waktu mau profesi, sudah mantab banget bahwa pilihannya pendidikan. Tapi sekarang tergoyahkan oleh money..money..money.. Ishh sebel juga ya!!!

Terus inget lagi kenapa kemarin ambil pilihan ini — TOBIAS. Itu kuncinya..

Saat ini kumantabkan langkah bahwa sampai 2 tahun kedepan, pilihan ini yang aku akan ambil. Being a house wife and mom, lecturer, and consultant.
Semoga profesi ini bisa membuat ku lebih mencintai Tuhan, keluarga, orang lain (khususnya difabel), dan indonesia.

Being HR

Menjadi seorang HR memang bukan pilihanku sejak masuk kuliah Psikologi. Lebih tepatnya, menjadi HR adalah harapan alm. Bapake (Eyang Kakungnya Tobi). Tapi ternyata dunia HR tidak membosankan seperti yang dibayangkan di awal.

Seorang HR harus punya komunikasi yang baik. Mau gak mau, kita banyak berperan sebagai penengah dalam berbagai macam konflik antar individu or departemen. EmpatiĀ juga penting banget lho.. Continue reading